What's New?

Analisis Daya Saing Dan Kebijakan Pemerintah Di Kabupaten Kediri Pada Komoditi Bawang Mera

  • Foto Iklan
  • Foto Iklan

Analisis Daya Saing Dan Kebijakan Pemerintah Di Kabupaten Kediri Pada Komoditi Bawang Mera – ANALISIS DAYA SAING DAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DI KABUPATEN KEDIRI PADA KOMODITI BAWANG MERA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Indonesia adalah negara agraris dimana sebagian besar penduduknya hidup dari hasil bercocok tanam atau bertani, sehingga pertanian merupakan sektor yang memegang peranan penting dalam kesejahteraan kehidupan penduduk Indonesia. Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) tahun 2010, sektor pertanian menyumbang tenaga kerja sebanyak 42 juta orang lebih dari jumlah penduduk 15 tahun keatas yang bekerja menurut lapangan kerja utama yang hampir mencapai 110 juta orang. Peranan sektor pertanian memiliki kontribusi bagi pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 15,3% pada tahun 2009 berdasarkan harga berlaku. Kontribusi sektor pertanian masih relatif lebih besar dari pada sektor-sektor lainnya, walaupun selama periode 2004 – 2009 pertumbuhannya sebesar 6.99 % dibandingkan dengan sektor lainnya terjadi penurunan. Jika dilihat dari nilai absolutnya, maka kontribusi sektor pertanian terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) merupakan jumlah yang besar, sehingga seharusnya dapat dianalogikan bahwa petani seharusnya menerima pendapatan yang memadai untuk dapat hidup sejahtera. Namun pada kenyataannya, apabila dilihat melalui peta kemiskinan di Indonesia, kiranya dapat dipastikan bahwa bagian terbesar penduduk yang miskin adalah yang bekerja di sektor pertanian (Tambunan, 2003 : 23-24).
Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki kekayaan sumberdaya (resource endowment) khas tropis untuk menghasilkan berbagai produk pertanian tropis yang tidak dapat dihasilkan negara non-tropis. Di antara berbagai komoditas pertanian khas tropis yang berpotensial untuk dikembangkan di Indonesia dan memiliki prospek cerah pada masa mendatang sekaligus sebagai perolehan devisa adalah komoditas bawang merah. Peningkatan daya saing komoditas pertanian merupakan salah satu agenda penting kedepan dinilai dari kontekstual dan memiliki justifikasi yang kuat karena alasan sebagai berikut: (1) dominasi peran sektor pertanian dalam struktur kesempatan kerja, peningkatan kesejahtraan masyarakat, dan mengentaskan kemiskinan (2) potensi sumberdaya alam dalam pengembangan teknologi dan peningkatan produktivitas serta efisiensi usahatani, (3) tantangan globalisasi ekonomi yang menutut kemampuan daya saing di pasar domestik dan ekspor dan (4) komitmen pemerintah dalam pembangunan pertanian dengan sasaran pertumbuhan berkualitas (grow and equity) secara nasional. Dalam konteks peningkatan daya saing komoditi pertaniaan dibutuhkan pemahaman konsep dan alat ukur yang dapat disepakati bersama untuk mengukur kinerja daya saing, serta langkah-langkah kebijakan dalam mendukung peningkatan kinerja daya saing di lapangan. Daya saing dipahami sebagai konsep yang statis. Globalisasi perdagangan international memberi peluang dan tantangan bagi perekonomian nasional, termasuk di dalamnya agribisnis. Kesepakatan-kesepakatan GATT, WTO, AFTA, AFEC dan organisasi perdagangan dunia lainnya, satu sisi memberi peluang terhadap sektor pertanian di Indonesia, jika agribisnis yang dilakukan memiliki daya saing, sisi lain merupakan ancaman terhadap komoditas pertanian jika tidak memiliki daya saing. Daya saing dapat dilihat dari keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif.
Komoditas bawang merah dipandang lebih siap memasuki era pasar bebas dibandingkan komoditas pangan lainnya karena memiliki kemandirian dan campur tangan pemerintah terhadap harga produksi relatif kecil. Komoditas bawang merah dipandang sebagai sumber pertumbuhan baru untuk dikembangkan dalam sistem agribisnis, karena mempunyai keterkaitan yang kuat baik ke sektor industri hulu pertanian (up stream agriculture) maupun keterkaitan ke hilir (on farm agriculture), yang mampu menciptakan nilai tambah produksi dan menyerap tenaga kerja melalui aktivitas pertanian sekunder (down stream agriculture). Di sisi yang lain, bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki fluktuasi dan sensitivitas harga yang cukup tinggi, terutama karena perubahan permintaan dan penawaran. Bawang merah (Allium ascalonicum L) adalah salah satu komoditas hortikultura, biasa digunakan sebagai penyedap masakan, bahan baku industri makanan, obat-obatan dan disukai karena aroma dan rasanya yang khas. Selain itu bawang merah merupakan sumber vitamin B, C, kalium, fosfor dan mineral.
Produksi bawang merah Indonesia cukup baik, sekitar 90% dari kebutuhan nasional. Menurut data BPS luas panen bawang merah tahun 2011 seluas 93.667 ha menurun 17 % dibandingkan Tahun 2010. Sedangkan produksi 893.124 ton menurun 17,4% dibandingkan tahun 2011. Oleh karena tidak mencukupi kebutuhan terpaksa harus diimpor dari Thailand, Vietnam, Myanmar dan India. Volume impor bawar merah pada 2012 sebesar 95.000 ton dengan nilai Rp 400 miliar. Jumlah ini menurun 40,8% dibandingkan tahun 2011. Salah satu sentra bawang merah saat ini adalah Jawa Timur yakni 198.388 ton (22,2 %). Salah satu kabupaten yang memiliki komoditas pertanian dengan perkembangan yang cukup baik di Jawa Timur adalah Kabupaten Kediri.
Sejalan dengan arah perdagangan secara umum, pemerintah melakukan penyesuaian kebijakan harga input dan output sebagai respon dari tuntutan pasar yang smakin terbuka. Dihapuskannya subsidi pupuk dan pestisida, diberlakukan tarif dan pajak ekspor pada beberapa komoditas pertanian diduga berpengaruh terhadap kinerja usahatani bawang merah dan pada gilirannya akan berpengaruh terhadap daya saing komoditas tersebut dalam perdagangan domestik dan kaitannya dengan optimasi pemanfaatan sumberdaya domestik maupun dalam persaingan di pasar internasional. Untuk mengantisipasi berbagai perubahan tesebut diperlukan kajian komprehensif terkait dengan analisa daya saing dan kebijakan pemerintah Kabupaten Kediri di provinsi Jawa Timur pada komoditas bawang merah.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah :
1. Apakah usahatani komoditi bawang merah di Kabupaten Kediri merupakan usahatani yang memiliki keunggulan kompetitif dan komperatif ?
2. Berapakah tingkat keuntungan usahatani komoditi bawang merah di Kabupaten Kediri?

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penulisan ini yaitu
untuk menganalisis :
1. Menganalisis keunggulan kompetitif dan komperatif usahatani komoditi bawang merah di Kabupaten Kediri.
2. Menganalisis tingkat keuntungan usahatani komoditi bawang merah di Kabupaten Kediri.

1.4 Kegunaan
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi dan bahan pertimbangan dalam usahatani bawang merah.
2. Bagi Dinas / Instansi Urusan Pangan diharapkan dapat menjadi masukan dalam penyusunan kebijakan teknis yang berkenaan dengan pengembangan usahatani bawang merah.
3. Bagi pihak yang berkompeten diharapkan dapat menjadi informasi dalam membangun koordinasi yang harmonis dalam kaitannya dengan pengembangan usahatani bawang merah.

:: Informasi Iklan ::

Penerbit: UMBU MARAMBA

Kategori: Agrobisnis

Lokasi: Nusa Tenggara Timur

Kontak: Telepon

Label: Analisis Pam